Kabarnya Tak Akur, Pemain Chelsea Ternyata Tangisi Kepergian Maurizio Sarri

Suara.com – Maurizio Sarri mengakui bahwa dia memiliki hubungan yang diwarnai konflik dengan para pemain Chelsea dan tidak akan pernah mau lagi tinggal di Inggris. Meski demikian, Sarri mengaku rindu Liga Premier.

Sarri mengantarkan Chelsea masuk kualifikasi Liga Champions dan Liga Europa musim 2019-2020, tetapi dia kembali ke Italia untuk bergabung dengan Juventus musim panas lalu.

“Semakin tinggi Anda naik jenjang, semakin berat membangun hubungan pribadi dengan pemain-pemain Anda,” kata pelatih berusia 61 tahun itu di channel YouTube milik Juventus.

“Yang mengelilingi Anda mengubah banyak dan butuh waktu lama untuk membangun hubungan itu. Saya punya hubungan konflik dengan ruang ganti pemain Chelsea tetapi ketika saya bilang saya mau pergi banyak dari mereka yang menangis,” paparnya.

Maurizio Sarri mengangkat trofi Liga Europa usai Chelsea menjadi juara pasca mengalahkan Arsenal 4-1 pada laga final di Stadion Olimpiade Baku, Azerbaijan, Kamis (30/5/2019) dini hari WIB. [Yuri KADOBNOV / AFP]

Dia mengaku bukan orang yang berbicara di belakang. “Saya bicara banyak mengenai apa kesalahan mereka dan sedikit membicarakan hal baik yang mereka lakukan.”

“Saya kira hal itu berdampak besar, tapi mereka kemudian menyadari untuk menghargai Anda untuk siapa Anda. Hubungan paling lama dengan para pemain yang bermain sedikit, jadi saya kira mereka mengenal sesuatu begitu mereka menyerap karakter Anda.”

“Begitu hubungan mulai, Anda bisa membicarakan apa saja,” kata Sarri.

Sekalipun dia bukan penyuka gaya hidup Inggris, mantan bos Napoli itu mengaku dia bahwa jatuh cinta kepada sepak bola di negeri itu.

“Anda bisa merasakan kaum muda mendapatkan banyak sekali kesempatan di Inggris, bukan cuma dalam sepak bola.”